Tanggal : 6 Januari 2005
Sumber : http://www.indomedia.com/BPost/012005/6/opini/opini1.htm
Oleh : Didik Triwibowo ST
Sudah sebegitu angkuhnya kita,
Sudah sebegitu congkakkah kita,
Di hadapan Nya?
Hingga Ia Yang Maha Kasih
menegur kita dengan dahsyatnya bencana?
Di tengah duka kita yang mendalam atas terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) serta di belahan Asia lainnya, tersisa pertanyaan: Mengapa terjadi begitu berturut-turut di negeri tercinta ini? Mengapa begitu dahsyat meluluhlantakkan kehidupan tanpa sisa? Duka apa lagi yang mesti kami hadapi?
Melihat secara live dari lokasi bencana, dari foto media dan siaran radio, seakan-akan kita yang safe di sini dapat merasakan sendiri duka itu, tangis pilu kehilangan saudara, harta benda. Memang, bencana ini menimpa siapa saja tanpa melihat apakah ia pejabat atau bukan, keluarga kerajaan atau rakyat biasa, kaya atau miskin, anak-anak atau orang tua, wanita ataupun laki-laki, hewan, tanaman, rumah biasa, gedung perkantoran, masjid dan semua yang ada di laut ataupun daratan tersapu oleh dahsyatnya hantaman tsunami setelah sebelumnya digoncang oleh gempa bumi. Kita berduka, Indonesia berkabung.
Simpati dunia sungguh besar atas musibah terbesar sepanjang seratus tahun terakhir. Belum pernah ada bencana yang melanda secara bersamaan di banyak negara; Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Somalia, Bangladesh dan Malaysia, dengan begitu banyak korban jiwa. Badan yang terkait di Perserikatan Bangsa- Bangsa didukung pemerintahan negara yang tidak terkena musibah, mulai turun tangan menyiapkan bantuan untuk segera dapat diberikan kepada korban.
Sekjen PBB menilai pentingnya koordinasi dengan pemerintah di masing-masing negara yang terlanda musibah, agar bantuan dapat tepat sasaran dan diterima oleh mereka yang berhak. Kita mengutuk siapa pun yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, mereka yang menilep bantuan atau berbuat nista lainnya di atas penderitaan saudaranya. Dan, celakanya benar-benar ada manusia jenis ini.
Menurut laporan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), tsunami tersebut dipicu oleh gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR) yang terjadi di tengah laut sekitar 149 km selatan Meulaboh, Aceh Barat dengan kedalaman hipocenter (pusat gempa) pada 20 km. Sedangkan menurut pengukuran USGS (United States Geological Survey), gempa tersebut berkekuatan 8,9 SR (BPost, Senin 27/12). Jika memang kekuatan versi USGS benar, artinya gempa di Aceh ini merupakan gempa terbesar kedua di dunia dengan kekuatan di atas 8 SR.
Tsunami
Tsunami (tsu nah mee) merupakan kosa kata Jepang yang sangat populer untuk menamakan gelombang laut sangat besar yang ditimbulkan gempa laut, berhubungan dengan gempa bumi, longsor dasar laut, sesar (fault) dasar laut atau letusan gunung api bawah laut. Sering juga tsunami disebut gelombang pasang. Namun istilah ini kurang tepat, karena tsunami tidak ada hubungannya dengan peristiwa pasang surut sehari-hari.
Istilah teknisnya adalah seismic sea waves, gelombang laut akibat getaran (mendadak). Getaran ini bisa dipicu kejadian yang bermacam-macam seperti yang disebutkan di atas. Namun yang terhebat dan paling dahsyat dipicu oleh pergeseran mendadak di dasar laut, yang umumnya terjadi di sepanjang zona penunjaman (subduksi) yang juga selalu berasosiasi dengan gempa tektonik.
Di Indonesia, zona penunjaman ini merupakan tunjaman lempeng samudera yang dinamakan Lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng benua bernama Lempeng Asia. Zona tunjaman letaknya kira-kira di laut lepas yang jika dirunut dari barat Indonesia dimulai dari sebelah selatan Aceh, selatan Sumatera, selatan Jawa, Bali, Lombok, Timor dan membelok ke utara di timur Maluku menerus ke Filipina. Zona yang panjang ini meliuk dan melingkar seperi sabuk dan merupakan pusat sebaran gempa dunia, sehingga dikenal sebagai Sabuk Gempa Bumi Dunia. Karena salah satu penyebab tsunami yang paling dahsyat adalah gempa, maka otomatis daerah yang dekat dengan zona di atas merupakan kawasan rawan terhadap bahaya tsunami. Sementara dapat juga dikatakan daerah seperti pantai utara Jawa serta Kalimantan, cenderung aman dari terjangan tsunami.
Dalam sejarah panjang tsunami, ada juga yang dipicu oleh longsoran besar, seperti terjadi di Teluk Lituya, Alaska pada 9 Juli 1958. Di mana longsor akibat gerakan sesar menyebabkan longsornya puluhan juta meter kubik material ke teluk yang kemudian memicu tsunami dengan kecepatan sampai 160 km/jam, menghancurkan permukiman di sepanjang tepian teluk di seberangnya (Miller, 1960). Tsunami seperti ini juga pernah terjadi di Sugami Bay, Jepang pada 1933 dan Valdez, Alaska pada 1964.
Catatan spektakuler lain adalah tsunami yang disebabkan meletusnya Gunung Krakatau, Selat Sunda pada 27 Agustus 1883 yang menyebabkan 30.000 manusia meninggal tersapu gelombang. Waktu itu tsunami yang menyapu pantai mencapai ketinggian lebih dari 30 meter dan menghantam Jawa serta Sumatera.
Jepang, negara asal kata tsunami adalah yang paling sering menderita karena terjangan tsunami. Sejak 1596, Jepang menderita lebih dari 10 kali bencana tsunami paling mematikan. Sebagai contoh, pada 1707 saat terjadi gempa bumi tektonik melahirkan gelombang raksasa di Osaka Bay melemparkan 1.000 kapal yang berlabuh di pantai ke daratan.
Bagaimana Tsunami Menyapu Pantai?
Saat terjadi gempa bumi tektonik di tengah laut yang dapat menimbulkan tsunami, gelombang yang dihasilkan bergerak di laut lepas memiliki panjang gelombang antara satu puncak gelombang dan lainnya bisa mencapai 100 km, dengan tinggi gelombang tidak sampai satu meter. Karenanya, gelombang ini bahkan tidak dirasakan oleh kapal kecil yang ada di tengah laut terbuka.
Namun jika kita hitung kecepatannya, tsunami mampu mencapai kecepatan sampai 700 - 800 km/jam. Kecepatannya akan semakin berkurang seiring dengan semakin dangkalnya laut saat akan mencapai pantai, tetapi panjang gelombangnya semakin pendek dan tinggi gelombangnya menjadi berlipat, sampai 30 meter. Maka tak heran, jika ada korban yang tersangkut di pohon tinggi.
Saat gelombang mencapai pantai (run up), ia termodifikasi sesuai bentuk garis pantai dan juga topografi dasar pantai. Ada beberapa bagian pantai seperti teluk yang agak sempit atau mulut sungai terjadi konsentrasi energi, di mana tinggi run up mencapai maksimumnya. Sementara di bagian pantai lainnya energi tersebar di daerah yang lebih luas, run up-nya rendah.
Gelombang ini mencapai pantai tidak dalam satu waktu bersamaan. Jika pendekatan ini kita pakai untuk tsunami, maka ada fenomena di mana saat akan terjadi tsunami air di pantai surut ke laut secara drastis, meninggalkan ikan di pantai. Seperti yang terjadi di Hilo, Hawaii pada 1932. Saat itu orang-orang di pantai serta merta berlarian ke tengah laut menangkapi ikan yang tersebar, namun tak lama kemudian mereka harus tergulung puncak tsunami pertama yang mencapai pantai.
Di lain tempat mungkin sebelumnya air laut justru naik, sebelum gelombang sebenarnya menyapu tempat tersebut. Tsunami terjadi tidak hanya satu kali, mungkin merupakan seri yang berurutan dengan interval bervariasi dari hitungan menit sampai jam. Hantaman gelombang pertama tidak selalu yang terbesar, hingga kita harus berhati-hati setelahnya. Di Hawaii, 1946, di beberapa tempat justru yang terdahsyat adalah tsunami kedelapan.
Gempa bumi di Aceh menyebabkan timbulnya gelombang air laut dengan kecepatan tinggi dan mencapai kawasan pantai negara yang ada di dekatnya, Maladewa, India, Somalia, Thailand, Bagladesh, Sri Lanka, Malaysia dan terberat Indonesia. Kira-kira gelombang ini berlari dari sumbernya di Aceh lebih kurang 4.500 km untuk mencapai kawasan pantai negara lain.
Tsunami sangat berhubungan erat dengan gempa bumi tektonik di tengah laut. Jika gempa memiliki SR, maka Jepang mengajukan skala tingkat tsunami. Kekuatan tsunami berbanding lurus dengan kekuatan gempa. Sebagai contoh, gempa dengan kekuatan 7 SR akan menyebabkan tsunami dengan kekuatan 0 dan maksimum run up 1 - 1,5 meter yang sama sekali tidak berbahaya. Namun gempa berkekuatan 8,25 SR memicu tsunami grade 3 dengan maksimum run up 8 - 12 meter. Jika 8,9 SR seperti di NAD? Tentu tinggi gelombangnya jauh lebih besar dan lebih dahsyat.
Apa Yang Bisa Dilakukan?
Misi pertama adalah pertolongan terhadap korban yang selamat, menjamin tersedianya layanan kesehatan yang memadai dan pasokan makanan yang cepat dan kontinu. Rusaknya berbagai fasilitas umum, air bersih, listrik dan transportasi yang terputus merupakan tantangan terberat. Kita percaya. pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini bahu-membahu mengulurkan dana dan tenaga serta segala upaya untuk membantu korban.
Ke depan, belajar dari sejarah bencana sebelumnya, perlu sekali dikaji penerapan sistem peringatan dini (Early Warning System) terhadap semua potensi bencana yang ada di Indonesia dan melaksanakannya secara berkesinambungan meski dalam kondisi aman sekalipun. Masyarakat awam perlu diberi bekal pengetahuan praktis dan cukup tentang potensi bahaya yang paling dekat dengan mereka, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin ribut dll.
Mitigasi (pengurangan risiko) bencana alam dapat dilaksanakan dalam kerangka mengurangi besarnya kerugian dengan memetakan, mengevaluasi dan menentukan zona rawan bencana, dari tingkat paling rawan sampai aman serta menyosialisasikannya kepada masyarakat luas. Hal itu akan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Khusus mengenai bencana tsunami, dikenal adanya Seismic Sea Wave Warning System (SSWWS). Sistem ini mendasarkan pada jalinan kerjasama antarbadan dan lembaga, seperti Badan Survai Geodetik, AL, AU, Geological Survey, Penjaga Pantai, Oceanografi, maritim serta observator seismologi di dunia yang akan memantau dan menginformasikan semua gempa bumi yang terjadi yang dapat memicu tsunami, kepada aparat terkait di negara yang memiliki kawasan pantai terdekat.
Sebagai contoh, saat gempa di Cile, tsunami baru mencapai kepulauan Hawaii setelah 10 jam dan menyapu Jepang setelah 20 jam. Di bawah sistem ini, tentu akan ada cukup waktu untuk menyelamatkan diri begitu informasi mengenai gempa diterima dari aparat terkait (polisi, pemerintah). Maka, dapat dilakukan tindakan evakuasi di seluruh kawasan pesisir hingga tidak akan ada lagi korban.
Akhirnya, teriring doa serta simpati terhadap korban, mungkin tak perlu dijawab pertanyaan di atas. Hanya, semoga kita yang safe di sini semakin berendah hati di depan Nya, semakin arif, semakin sadar betapa sombongnya kita selama ini. Semoga.
Guru Geologi Struktur
di STM (Pertambangan) Sabumi, Banjarbaru
Email: d12k3w@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar