Sabtu, 05 Agustus 2006

Perikanan Sumbar sulit penuhi permintaan pasar

Tanggal : 5 Agustus 2006
Sumber : http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=268&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&p_ared_id=460541&p_ared_atop_id=O03
Oleh :Tularji

Letak Provinsi Sumbar di pantai barat pulau Sumatra sangat menguntungkan karena potensi kelautan dan perikanannya sangat besar. Sayangnya, pemberdayaan sektor perikanan tidak optimal, sehingga belum menghasilkan produktivitas yang signifikan terhadap perekonomian daerah ini.

Potensi kelautan dan perikanan di Provinsi Sumbar tersebar di tujuh daerah kabupaten dan kota a.l. Kota Padang, Pariaman, Kab. Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, dan Padang Pariaman.

Potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar tersebut sampai saat ini belum dioptimalkan oleh pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten dan kota yang memiliki kawasan laut tersebut.

Banyak pendapat mengatakan kalau di Selat Melaka sudah over fishing, sebaliknya perikanan di laut Sumbar tidak tersentuh atau justru menjadi incaran nelayan asing yang memiliki teknologi tangkap modern.

Parahnya lagi, nelayan di daerah ini belum bergerak kepada upaya optimalisasi potensi perikanan dan kelautan karena terbatasnya modal, teknologi yang sudah ketinggalan dan kualitas sumber daya manusia yang rendah.

Karena itu, potensi perikanan Sumbar yang diperkirakan mencapai 996.439 ton per tahun atau sekitar 20% dari potensi perikanan nasional baru tergarap 30% dan itu pun sebagian besar digarap nelayan luar, seperti Sumatra Utara dan nelayan asing.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Sumbar beberapa waktu lalu merilis potensi perikanan laut Sumbar menjadi incaran nelayan asing karena potensinya masih besar. Sementara daya tangkap nelayan lokal rendah.

Parahnya lagi, menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPD HNSI) Sumbar Mirwan Pulungan, eksploitasi potensi perikanan laut tidak optimal. Ini disebabkan nelayan yang benar-benar berprofesi sebagai nelayan sangat minim.

Produksi Perikanan Laut Sumbar (dalam ton)
NoKabupaten/Kota 20042005
1. Padang 19.160 20.405
2. Pariaman 6.332 6.722
3. Kepulauan Mentawai 10.597 11.286
4. Pasaman Barat 22.573 24.041
5. Agam 3.123 3.326
6. Padang Pariaman 16.470 17.541
7. Pesisir Selatan 24.110 25.591

Jumlah102.365108.912
Sumber: Pemprov Sumbar

Jumlah perahu nelayan 2005
Kabupaten/ kota Tanpa motorMotor tempelKapal motor
Padang 486 431 349
Pariaman 56 66 56
Kepulauan Mentawai 642 201 36
Pasaman Barat 1.143 43 263
Agam 565 76 66
Padang Pariaman 591 346 74
Pesisir Selatan 599 421 560
Jumlah 4.082 1.582 1.404
Sumber: Pemprov Sumbar

Pasalnya, selain menangkap ikan, banyak nelayan yang berprofesi sebagai petani, buruh, berkebun, pedagang dan sebagainya, sedangkan yang benar-benar berprofesi sebagai nelayan hanya 15%.

Permintaan tinggi

Gubernur Sumatra Barat Gamawan Fauzi mengatakan pasar produk perikanan laut Sumbar sangat menjanjikan karena kualitasnya cukup bagus. "Berapapun besarnya yang akan diekspor, negara-negara tujuan ekspor siap menampung," katanya kepada Bisnis pekan ini.

Menyinggung sulitnya memenuhi permintaan pasar luar negeri, dia mengatakan penyebab utamanya adalah kemampuan nelayan dalam meningkatkan volume tangkapan masih rendah karena alat tangkap yang digunakan terbatas.

Menurut dia, jenis alat yang digunakan nelayan selama ini memang bervariasi seperti tonda, pancing tonda (kail dengan banyak mata pancing yang ditarik dengan kapal), pancing biasa dan jaring kecil.

Sedangkan kurangnya modal, minimnya penguasaan teknologi menyebabkan hasil tangkapan nelayan tidak memuaskan, bahkan sebagian nelayan di daerah itu justru malas melaut.

Apa yang dikatakan Gubernur memang benar. Ketika Bisnis menelusuri pada salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Sumbar yakni Kepulauan Mentawai, terungkap pasar perikanan dari Sumbar menjanjikan, tapi permintaan tersebut sulit dipenuhi.

Seperti diungkapkan Salius, 41, seorang pedagang pengumpul besar yang memiliki empat kapal penangkap ikan berbasis di Tua Pejat, Ibu Kota kabupaten Kepulauan Mentawai, mengatakan pasar ekspor produk perikanan dari Perairan Sumbar menjanjikan.

Buktinya, kata dia, ratusan nelayan daerah itu yang beroperasi dengan menggunakan kapal berkapasitas 10 GT-15 GT tidak mampu memenuhi tingginya permintaan pasar terutama pasar ekspor.

Sebagai gambaran, tambahnya, mulai Mei lalu, importir asal Hong Kong siap menampung dan membeli ikan kerapu hidup dengan harga yang cukup tinggi yakni Rp80.000 per kg di tingkat nelayan.

Menariknya lagi, nelayan tidak perlu bersusah payak mengekspor ikan kerapu hidup tersebut ke negara tujuan, tapi cukup mengumpulkan kerapu hidup tersebut sebab importir Hong Kong telah menyiapkan kapal untuk menjemputnya.

"Sayang, seluruh pedagang pengumpul di daerah ini rata-rata hanya mampu menyediakan 50 kg -150 kg per bulan sehingga permintaan importir Hong Kong yang mencapai ratusan ton tersebut tidak bisa dipenuhi," kata Salius.

Demikian juga dengan pasar tuna. Meskipun saat ini pemprov sedang mengoptimalkan daya tangkap ikan tuna karena pasarnya sangat menjanjikan, tapi belum mampu memenuhi tingginya permintaan.

Kendala ekspor tuna juga terletak pada alat kargo yang terbatas karena saat ini ekspor ikan tuna tidak didukung oleh fasilitas pesawat kargo khusus, tapi melalui pesawat regular dengan kemampuan angkut yang terbatas.

Sebagai gambaran, sampai posisi Mei tahun ini, nilai ekspor tuna mencapai Rp34 miliar dengan volume 500 ton. Sementara pasar ekspor terutama Jepang, siap menampung berapapun banyaknya ikan tuna yang akan diekspor dari provinsi ini.

Untuk mengoptimalkan eksploitasi ikan tuna, pemprov menyiapkan delapan unit kapal khusus tangkap ikan tuna berkapasitas 15 GT.

Investor melirik

Pemprov Sumbar tahun ini terus mendorong investasi pada sektor kelautan dan perikanan serta mengoptimalkan potensi perikanan untuk menggerakkan perekonomian daerah ini dengan meluncurkan program revitalisasi perikanan.

Dalam program revitalisasi ini, pemprov menargetkan dapat memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan secara profesional untuk mendukung masyarakat Sumbar sejahtera pada 2010 mendatang.

Program revitalisasi diluncurkan dengan sasaran mendasarnya a.l. meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sebesar Rp1 juta per orang per bulan, kemudian mengentaskan kemiskinan nelayan sebanyak 3.100 kepala keluarga dan meningkatkan konsumsi ikan antara 26 kg-30 kg per kapita.

Hasilnya mulai kelihatan dan investor asing mulai melirik potensi kelautan dan perikanan provinsi ini, meskipun belum ada realisasinya. Menurut catatan Bisnis, sampai semester I/2006, sudah sembilan investor asing yang berminat berinvestasi pada sektor kelautan dan perikanan di provinsi ini.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar, Fachri Syam mengatakan ada lima investor dari Singapura yang akan berinvestasi di daerah ini. Mereka membutuhkan pasokan ikan segar sebesar 10 ton per hari.

Selain itu, ada dua investor asal Korsel yang akan berinvestasi sekitar Rp300 miliar masing-masing Rp200 miliar untuk membangun perusahaan tambak udang di Kabupaten Pesisir Selatan pada areal seluas 400 ha. Sedangkan, Rp100 miliar yang merupakan investasi perusahaan konsorsium Sigma Group of Companies, untuk membangun kota ikan (fish town).

Satu investor asal Malaysia akan berinvestasi sebesar Rp200 miliar untuk proyek pengadaan kapal tangkap ikan tuna berkapasitas 60 GT -100 GT dan pendirian pabrik pengalengan ikan.

Sayangnya investor asing tersebut belum merealisasikan rencananya. Mereka membutuhkan waktu untuk benar-benar yakin berinvestasi di daerah ini sangat menguntungkan. Bisa jadi investor asing masih membutuhkan kepastian hukum dan jaminan keamanan.

Jumat, 04 Agustus 2006

Hutan Bakau Pesisir Sulsel Perlu Direhabilitasi

Tanggal : 4 Agustus 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/04/daerah/2854082.htm
Oleh
Reny Sri Ayu Taslim


Bencana tsunami di Aceh akhir 2004 tiba-tiba saja membuka mata banyak orang untuk melihat lagi kondisi pesisir masing-masing.

Mangrove atau bakau dan apa pun jenis tanaman air asin lainnya menjadi pembicaraan penting. Demikian pula Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang tergugah untuk merehabilitasi hutan bakaunya yang sudah kritis dan parah kondisinya.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Sulsel Tan Malaka Guntur memaparkan, selama kira-kira 20 tahun terakhir, hutan bakau di sepanjang pesisir Sulsel berkurang hingga 90 persen. Sebagai gambaran, kalau 20 tahun lalu daerah ini masih memiliki 214.000 hektar (ha) hutan bakau, saat ini yang tersisa tinggal 26.000 ha. Areal sisa ini pun menunjukkan kecenderungan kian menyusut.

Menurut Tan Malaka, berkurangnya hutan mangrove terjadi di hampir seluruh pesisir Sulsel yang membentang di garis pantai sepanjang 1.973 kilometer (km). Akibatnya, nyaris di sepanjang pesisir Sulsel terjadi abrasi cukup parah.

"Abrasi ini bukan hanya menggerus jalan, tapi juga lahan pertanian, perkebunan, dan perkampungan penduduk. Sebagai contoh, abrasi di Kabupaten Pinrang dan Mangara Bombang di Kabupaten Takalar dan hampir di semua kabupaten," kata Tan Malaka.

Tidak adanya bakau, di beberapa desa di pesisir di Kabupaten Pangkep, terutama di wilayah yang berbatasan dengan laut lepas, membuat warga menderita bila air pasang.

"Kalau air pasang, terutama antara bulan November hingga Februari atau Maret, air masuk ke perkampungan dan rumah- rumah bisa terendam hingga sebatas betis atau paha orang dewasa. Makanya sekarang dibuat jalan-jalan desa yang posisinya cukup tinggi yang sekaligus bisa jadi semacam tanggul," ujar Abdul Djabar, Ketua Rukun Kampung Lamasik, Desa Boddie, Kecamatan Mandalle, Pangkep.

Hilangnya hutan bakau ini secara umum bukan hanya menyebabkan banyak orang terpaksa kehilangan rumah, sawah, dan kebun, tapi sekaligus menghilangkan mata pencarian. Kepiting dan beberapa jenis ikan dan udang yang berkembang biak di bawah akar-akar bakau, di sejumlah tempat di Sulsel, kini sudah punah.

Di Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar, misalnya, hilangnya hutan bakau dan penangkapan yang berlebihan membuat populasi kepiting rajungan mulai punah. Bahkan, sejumlah usaha rumahan yang bekerja sama dengan perusahaan pengekspor rajungan sudah berhenti berproduksi.

Di Desa Buku, Polman, hutan bakau juga menyebabkan kepiting yang pernah menjadi mata pencarian penduduk kini tinggal kenangan. Hal yang sama terjadi di Kecamatan Mandalle, Segeri, dan beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Pangkep. "Dulu banyak kepiting yang hidup di sini, tetapi sekarang sudah hampir tidak ada lagi. Kalaupun ada kepiting, jumlahnya sedikit dan ukurannya kecil-kecil," kata Abdul Jabar.

Di desa tersebut abrasi telah menggerus perkampungan dan tambak sehingga sebagian warga memilih merantau ke daerah lain hingga Malaysia. "Di sini rumah dan terutama mata pencarian mereka sudah hilang. Dulu di Pantai Buku banyak sekali kepiting dan banyak yang menjadikannya mata pencarian. Tetapi, sejak hutan bakau habis, kepiting tidak ada lagi," ungkap Ibrahim, Kepala Badan Perwakilan Desa Buku.


Rehabilitasi kawasan pesisir

Sebenarnya, ada hal yang lebih penting dari sekadar kehilangan permukiman, lahan pertanian, perkebunan, penghasilan, dan lainnya, yakni ancaman akan kehilangan segala-galanya bila terjadi bencana tsunami. Tanpa bakau, tsunami akan leluasa memorakporandakan kawasan pesisir. Di Sulsel, dari 23 kabupaten/kota, hanya empat kabupaten yang tidak berbatasan dengan laut.

Peneliti yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Niarti Ningsih mengingatkan pemerintah akan bahaya pesisir tanpa bakau.

"Berkaca pada bencana tsunami di Aceh, Pangandaran, dan banjir bandang di Kabupaten Sinjai, penanaman kembali bakau harus lebih digiatkan. Di Sinjai, misalnya, kerusakan yang terjadi di Tongke-Tongke dan sekitarnya yang dipenuhi bakau masih lebih ringan ketimbang daerah lain," paparnya.

Karena berbagai alasan inilah Pemprov Sulsel bekerja sama dengan pemerintah kota/kabupaten dan masyarakat pesisir untuk merehabilitasi kawasan pesisir dengan menggalakkan kembali penanaman bakau.

Penanaman kembali bakau, kata Tan Malaka, tidak dilakukan sekaligus, tapi bertahap dan simultan di berbagai daerah. Misalnya, pemprov menanam 10 ha-20 ha di tiap kabupaten dan pemerintah kabupaten/kota juga menanam sejumlah itu.

"Modelnya semacam demplot. Agar masyarakat mau terlibat secara langsung dan intensif, kami memberikan insentif. Selain diberi bibit dan diajari cara menanam, mereka juga diberi modal sebagai tambahan penghasilan. Misalnya kami beri bibit rumput laut, alat menangkap ikan, dan lainnya. Jadi mereka punya motivasi untuk menanam dan menjaga bakau," ungkapnya.

Diharapkan, jika setiap tahun 20 kabupaten masing-masing menanam sedikitnya 20 ha bakau, maka setidaknya setiap tahun target perluasan hutan bakau 300 ha-500 ha bisa tercapai.

Sayangnya, rencana itu tidak mudah diwujudkan di lapangan. Faktanya, penanaman kembali bakau dan sejenisnya sungguh tidak mudah dilakukan. Sepanjang dua tahun penggalakan kembali penanaman bakau, tingkat keberhasilan di setiap tempat hampir sama, yakni hanya sekitar 20-30 persen.

"Kalau menanam pada musim kemarau tanamannya mati. Tetapi, kalau menanam pada saat air pasang dan ombak besar, baru ditanam sudah rusak dibawa ombak. Sekalipun sudah diberi patok penahan ombak, tapi kalau ombaknya besar, patoknya pun terbawa ombak," tutur M Gading, Ketua Kelompok Tani Makmur, Desa Boddie, Kecamatan Mandalle.

Seluruh kelompok tani di desa-desa di seluruh kabupaten di pesisir memang dilibatkan langsung dalam kegiatan ini.

Abdul Madjid dari kelompok tani di Kecamatan Segeri mengakui, "Selama dua tahun saya menanam bakau, bisa dibilang tingkat keberhasilannya hanya sekitar 20-30 persen."

Sebenarnya, selain bakau, di sejumlah pesisir, tanaman lokal yang oleh masyarakat sekitar disebut pohon api-api tumbuh subur. Fungsinya hampir seperti bakau karena juga tumbuh di air asin dengan tanah berpasir. Akarnya pun dinilai cukup kuat untuk menahan gerusan ombak di tanah. Bahkan, tanaman ini jauh lebih mudah tumbuh.

"Sejak dulu kebanyakan memang pohon api-api yang tumbuh. Pohon api-api ini biasanya tumbuh sendiri. Kalau buahnya sudah jatuh, biasanya tumbuh sendiri tanpa perlu dipelihara. Akarnya juga cukup kuat menahan ombak yang menggerus tanah. Bahkan, kalau ombak datang membawa tanah dan lumpur akan membuat tanah di bawah pohon bertambah tinggi karena tertahan di akar pohon," papar Abdul Jabar, warga Desa Boddie, Pangkep.

Menurut Niarti Ningsih yang meneliti bakau sejak tahun 1990-an, menanam bakau memang tidak bisa dilakukan asal-asalan karena perlu perlakuan khusus. Pada tanah berpasir, yang paling tepat ditanam adalah risophora. Sedangkan di lahan berlumpur dan berair, cocok untuk bakau dengan beberapa jenisnya. Untuk pesisir di laut lepas sebaiknya tanaman diberi pemecah ombak atau patok-patok yang cukup kuat menahan ombak.

Senin, 01 Mei 2006

SD Kawasan Pesisir Kekurangan Guru

Tanggal : 1 Mei 2006
Sumber : http://www.indomedia.com/BPost/052006/1/kalsel/lbm5.htm

Pelaihari, BPost
Sebagian besar sekolah, terutama jenjang sekolah dasar (SD), di kawasan pesisir Kabupaten Tanah Laut (Tala) hingga kini masih kekurangan guru.

Sejumlah SD di pesisir Kecamatan Jorong dan Kintap, antara lain, yang sampai saat ini dihadapkan pada terbatasnya tenaga pengajar. Sumber BPost melaporkan beberapa SD hanya ditangani oleh dua orang guru.

Akibatnya, proses belajar-mengajar di sejumlah SD pesisir berjalan apa adanya, jauh dari standar. Ini disebabkan guru yang ada harus mengajar hingga tiga kelas sekaligus sehingga materi pelajaran tidak tersampaikan secara maksimal.

Dikonfirmasi, Jumat (28/4), Kadis Pendidikan Tala Drs H Noor Ifansyah mengakui kurangnya tenaga guru di beberapa SD. "Ini memang menjadi salah satu permasalahan serius. Kami terus berupaya untuk mengatasinya."

Diakuinya pula bahwa Tala tergolong sebagai salah satu daerah di Kalsel yang masih mengalami kekurangan guru dalam jumlah cukup besar, ribuan orang. Terutama pada SD di wilayah pesisir.

"Tidak bisa dipungkiri memang hingga sekarang masih ada beberapa SD yang hanya memiliki 2-3 guru. Tapi, proses belajar mengajar tetap berjalan dan tetap diupayakan secara maksimal," tandas Ifansyah.

Berbagai cara terus dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Diantaranya melalui rekrutmen guru bantu yang berasal dari daerah setempat.

Tahun 2003 lalu rekrutmen guru bantu sebanyak 225 orang dan 245 pada tahun 2004. "Mereka kami sebar ke SD di kawasan pesisir yang sangat kekurangan guru. Contohnya, ke SDN di Desa Sabuhur dan Trans 200," sebut Ifansyah.

Namun diakuinya rekrutmen guru bantu tersebut belum mampu mencukupi kekurangan guru. Apalagi, sebagian diantara mereka terserap menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Tenaga guru hasil rekrutmen CPNS awal tahun 2006 lalu, misalnya, sebanyak 111 orang. Sebagian besar adalah berasal dari guru bantu, hanya 89 orang yang berasal dari umum.

Karena itu, sebut Ifansyah, pengadaan guru bantu diupayakan akan terus dilanjutkan. Ini karena keberadaan mereka cukup membantu mengatasi keterbatasan tenaga pengajar di sejumlah SD.

Strategi lain yang dilakukan, lanjut Ifansyah, yakni memperketat mutasi. Pihaknya tidak akan mengabulkan permohonan pindah tugas--terutama dari desa ke kota--jika tidak ada alasan yang sangat kuat. Kecuali, bagi mereka yang melanjutkan pendidikan (sarjana).

Saat ini ada sekira 20-an guru yang melanjutkan pendidikan sarjana di Banjarmasin dan Banjarbaru. Sebagian dari mereka sebelumnya meminta pindah tugas ke wilayah Kecamatan Bati-Bati dengan tujuan agar lebih dekat dengan tempat mereka kuliah.

"Yang seperti ini, saya maklumi, karena niat mereka meningkatkan kualitas diri adalah hal yang sangat positif. Tapi, setelah mereka merampungkan kuliahnya, tentu kebijakan saya akan lain lagi. Mereka kemungkinan akan disebar ke daerah pesisir lagi," kata Ifansyah. roy

Senin, 27 Maret 2006

Dibutuhkan Reorientasi Kelautan Nasional

Tanggal : 27 Maret 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0603/27/humaniora/2541652.htm

Jakarta, kompas - Pembangunan Indonesia saat ini masih berorientasi pada daratan dan belum memandang laut sebagai komponen wilayah yang utama. Dampaknya, perlindungan terhadap kedaulatan matra laut Indonesia masih sangat minim sehingga banyak kekayaan alam yang dicuri begitu saja.

"Kenyataan bangsa ini belum memandang laut sebagai yang utama mengakibatkan kita sulit memanfaatkan potensinya seoptimal mungkin," kata Prof Dr Susanto Zuhdi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) di Jakarta, Sabtu (25/3). Upacara yang dipimpin Rektor UI Prof Dr Usman Chatib Warsa itu juga mengukuhkan Meutia Farida Hatta-Swasono sebagai guru besar tetap FISIP UI.

Pembangunan yang terlalu berorientasi pada daratan menyebabkan pengawasan kelautan terus tertinggal. Padahal, laut memiliki peranan yang penting yang menyatukan pulau-pulau yang terpisah di Indonesia.

Memang, kata Susanto, semua pihak menyadari upaya penyatuan pulau-pulau itu masih memiliki hambatan. Di antaranya letak pulau-pulau yang berada jauh dari daratan besar atau sudah mendekati batas perairan internasional.

Lebih lanjut Susanto mengajak semua pihak untuk meningkatkan pemahaman terhadap Tanah Air dengan mempelajari sejarah. Para peserta didik harus mendapat pengetahuan sejarah nasional yang memadai sehingga mereka semakin mencintai Tanah Airnya.

"Merangkai Tanah Air dapat dengan lawatan sejarah, baik melalui bacaan dan film maupun dengan berkunjung ke situs sejarah. Cara ini bisa dilakukan untuk merajut simpul-simpul perekat bangsa," ujarnya.

Selasa, 14 Februari 2006

Kawasan Pesisir Sulit Dikembangkan

Tanggal : 14 Februari 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0602/14/daerah/2438739.htm

Banda Aceh, Kompas - Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, pengembangan kawasan pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih sulit dilakukan meskipun kawasan pesisir merupakan wilayah paling parah terkena dampak tsunami. Wilayah pesisir memiliki keunikan tersendiri karena sangat dinamis dan terdapat banyak keterikatan ekologis. Pengelolaan kawasan pesisir terpadu bisa mendatangkan banyak manfaat, ujar Freddy pada pencanangan pembangunan pesisir terpadu di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Senin (13/2).

Namun, diakui Freddy, pembangunan kawasan yang terkena dampak tsunami di Aceh masih belum banyak memerhatikan wilayah pesisir. Yang dibutuhkan di Aceh sekarang adalah coastal management area yang baik dan memerhatikan keberlanjutan sumber daya pesisir, ujarnya.

Tiga desa yang dicanangkan sebagai desa terpadu untuk pengembangan kawasan pesisir adalah Desa Meunasah Keude, Meunasah Kulam, dan Meunasah Mon di Kemukiman Kreung Raya, Aceh Besar. Pengembangan desa terpadu di kawasan pesisir ini merupakan proyek konsorsium Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB) dengan Lembaga Riset dan Informasi Pengembangan Masyarakat (Leima).

Menurut Ketua Konsorsium Prof Dr Tridoyo Kusumastanto, pengembangan tiga desa di kawasan pesisir ini memadukan sektor perikanan, pertanian, dan industri. Kami ingin proses pengembangan kawasan pesisir ini tidak terkotak-kotak karena di sana ada yang hidup dari sektor perikanan, pertanian, dan industri, ujarnya.

Pengembangan kawasan pesisir di tiga desa ini juga berbasis pada keinginan masyarakat setempat. Sebelum dilakukan pembangunan fisik, menurut Tridoyo, lebih dulu dilakukan penguatan pranata sosial masyarakat.

Masyarakat terlibat langsung lewat Komite Pembangunan Desa. Untuk menggerakkan sektor ekonomi, dibentuk koperasi syariah, pranata masyarakat juga dipulihkan, ujar Tridoyo.

Jumat, 10 Februari 2006

Mengangkat Potensi Bahari Sumbar

Tanggal : 10 Februari 2006
Sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/10/bahari/2358310.htm
Oleh :
Yurnaldi


Di depan Menteri Besar Selangor Dato’ Seri Dr HM Khir bin Toyo, Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengungkapkan, daerahnya memiliki potensi besar di bidang kelautan dan perikanan, tetapi baru sebagian kecil yang tergarap. Terbuka peluang bagi investor Malaysia untuk bekerja sama guna menggarap potensi besar itu.

Potensi perikanan Sumatera Barat (Sumbar) itu tercermin dari data yang dipaparkan Gawaman Fauzi di depan tamunya, Dato’ Seri Dr HM Khir bin Toyo, 7 Januari 2006 silam.

Perairan laut Sumbar amat kaya oleh potensi ikan berkualitas ekspor. Tahun 2004, dari 340.930 ton potensi, yang mampu diproduksi baru 99.484,90 ton dan tahun 2005 sebanyak 109.000 ton. Produksi ikan tuna, cakalang, tongkol, kerapu, dan udang itu diekspor ke Jepang, Hongkong, dan Amerika Serikat.

Paparan Gamawan soal potensi bahari Sumbar ini tak sia-sia. Dari 100 pengusaha yang dibawa Menteri Besar Selangor, ada sejumlah pengusaha yang berminat dan langsung menandatangani kontrak kerja sama.

Gamawan dalam beberapa kali kesempatan selalu bicara soal potensi perikanan dan kelautan Sumbar. Ia menyadari bahwa sektor kelautan dan perikanan dalam perekonomian provinsi berpenduduk 4.375.080 jiwa (2002) ini punya peranan besar sebagai sumber lapangan kerja, juga dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta sebagai sumber devisa.

”Jika sekarang pendapatan per kapita penduduk Sumbar hanya 900 dollar AS, melalui pemberdayaan potensi kelautan diyakini bisa meningkat menjadi 1.000 sampai 1.500 dollar AS,” paparnya.


Hidupkan semangat bahari

Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dalam kesempatan ketika berkunjung ke Sumbar, Agustus 2005 lalu, menegaskan perlunya kembali menghidupkan semangat jiwa bahari.

”Bangsa bahari adalah bangsa yang sadar bahwa hidup dan masa depannya bergantung pada lautan serta memanfaatkan sumber daya laut dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bangsa,” ujar Freddy Numberi.

Ia mengemukakan, bangsa kita saat ini menghadapi permasalahan dalam hal pelestarian dan semangat jiwa bahari. Jiwa dan semangat bangsa Indonesia tidak lagi menggambarkan karakter bangsa bahari seperti yang ditunjukkan pada masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.

”Tuhan telah memberikan karunia dengan luas lautan 5,8 juta kilometer persegi, dan lebih dari dua per tiga bagian luas negara kita ini adalah lautan, serta garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Sangatlah ironis bila kita melihat masih banyak masyarakat pesisir dan nelayan yang hidupnya jauh di bawah garis kemiskinan. Tingkat konsumsi ikan masyarakat kita hanya 23 kg per kapita per tahun, jauh di bawah negara-negara Asia lainnya,” paparnya.


Strategi pembangunan

Sejalan dengan harapan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, Gubernur Gamawan Fauzi telah menyusun berbagai kebijakan dan strategi pembangunan bidang kelautan dan perikanan, yang semuanya bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, nelayan, dan pembudidayaan ikan.

Berada di pesisir barat Pulau Sumatera, Provinsi Sumbar memiliki panjang pantai 375 km, mulai dari Kabupaten Pasaman Barat di utara sampai Kabupaten Pesisir Selatan di selatan, serta 2.420 km jika termasuk pantai di Kepulauan Mentawai. Hal ini sebuah potensi besar untuk pengembangan usaha budidaya laut di sekitar pantai.

”Dengan jumlah pulau sebanyak 391 buah dan luas perairan teritorial berikut perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) 186.500 km persegi, serta potensi ikan laut sebesar 340.930 ton, Sumbar potensial untuk pengembangan penangkapan ikan di laut,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar H Surya Dharma Sabirin.

Menurut dia, potensi sumber daya kelautan yang dimiliki Sumbar tidak hanya sebatas ikan, hutan bakau, terumbu karang, dan padang lamun, tetapi juga mineral dan bahan-bahan tambang yang sampai saat ini belum termanfaatkan secara optimal karena berbagai keterbatasan, baik untuk eksplorasi maupun eksploitasi.

Di samping itu, jasa lingkungan kelautan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk pariwisata, industri bahari, industri jasa angkutan, dan sebagainya. Harta karun yang tersimpan di bawah perairan Sumbar selama ini juga merupakan potensi yang perlu digarap, karena selain punya nilai ekonomi juga punya nilai sejarah yang tinggi.

Khusus potensi ikan, dari potensi sumber daya ikan sebanyak 340.930 ton, produksi ikan yang tergarap baru sekitar 30 persen dari potensi. Artinya, masih mungkin untuk pengembangan, terutama di perairan lepas pantai sampai ke Kepulauan Mentawai maupun di ZEE.

”Jika ikan-ikan yang hidup di perairan pantai atau lepas pantai, seperti kerapu, kakap, lobster, tenggiri, dan ikan-ikan karang lainnya sudah diekploitasi sampai mendekati daya dukung sumber daya, tidak demikian halnya ikan-ikan yang berada di perairan ZEE 200 mil yang relatif masih rendah tingkat pemanfaatannya,” tutur Surya Dharma Sabirin.

Menurut dia, di samping perikanan tangkap, pada perairan di sepanjang pesisir, baik pada sisi barat Pulau Sumatera maupun bagian timur Kepulauan Mentawai yang terlindung ombak, potensial untuk usaha budidaya laut. Misalnya, pemeliharaan kerapu dan kakap di jaring apung atau rumput laut pada rakit-rakit atau tali.

Surya Dharma menambahkan, untuk mengoptimalkan produksi kelautan Sumbar, dibutuhkan minimal 100 unit alat tangkap jenis purse seine. Peralatan tangkap yang dimiliki 31.647 nelayan Sumbar selama ini lebih banyak menggunakan kapal tunda. Kapal tunda ini harus dimodifikasi dengan menggunakan peralatan tangkap long line sehingga hasil tangkapan bisa optimal.

Peluang bagi pengusaha yang ingin berinvestasi untuk menggarap sektor perikanan laut sangat terbuka sebab nelayan tradisional tak mungkin mampu membeli satu pukat cincin yang harganya berkisar Rp 2 miliar.

”Adanya investor baru, maka akan banyak tenaga kerja yang bakal diserap. Dengan demikian, masalah pengangguran dan kemiskinan bisa sebagian tertanggulangi. Saat ini tenaga kerja yang terlibat langsung dalam produksi tercatat sebanyak 125.657 orang, atau 2,8 persen dari total penduduk Sumbar. Itu belum termasuk tenaga yang bekerja di sektor hulu maupun hilir, seperti galangan kapal atau perahu, pembenih ikan maupun pedagang,” ujar Surya Dharma.


Berkah

Bagi Sumatera Barat, pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), awal Oktober 2005, mereka justru seperti mendapat berkah. Terbukti, sejumlah pengusaha bidang perikanan laut kini melirik potensi yang ada di Sumbar. Tidak saja potensi ikan berkualitas ekspor, tetapi juga kemudahan fasilitas lain yang memungkinkan pengusaha bisa beroperasi secara lebih efisien.

”Daerah operasi penangkapan dengan tempat pendaratan ikan relatif dekat. Begitu juga dengan Bandara Internasional Minangkabau untuk fasilitas tujuan ekspor. Berusaha di perairan Sumatera Barat sekitar wilayah Padang tidak hanya hemat BBM, tetapi juga hemat biaya lainnya,” ucap seorang pengusaha asal Jakarta yang selama ini beroperasi di Muara Baru, Jakarta.

Gamawan Fauzi menyebutkan, sebanyak 40 perusahaan penangkapan ikan kualitas ekspor dengan 86 unit kapal yang selama ini beroperasi di Benoa, Bali, dan Muara Baru, Jakarta, sejak beberapa bulan terakhir pascakenaikan harga BBM mengalihkan wilayah operasionalnya ke Kota Padang, Sumbar.

Selain perairan pantai barat Sumbar kaya potensi ikan, pendaratan kapal juga relatif dekat, yakni di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus. Ikan hasil tangkapan mereka setelah dikemas langsung bisa diterbangkan dari Bandara BIM yang berjarak sekitar 35 km dari Bungus. Dengan mengalihkan operasional ke Padang, mereka bisa menghemat banyak.


Tingkatkan fasilitas

Untuk memberikan pelayanan optimal kepada 40 perusahaan penangkapan ikan itu, tahun ini Pemerintah Provinsi Sumbar sudah menganggarkan dana untuk memperluas dan memperpanjang dermaga di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, sepanjang 600 meter lagi, sehingga nanti menjadi 886 meter dengan kedalaman kolam mencapai enam meter.

Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus memiliki fasilitas seperti tangki bahan bakar minyak berkapasitas 75 ton, air minum berkapasitas 350 ton, cold storage, pabrik es berkapasitas 50 ton, area docking seluas 2.860 meter persegi, area untuk lokasi industri dan pengolahan seluas satu hektar, yang dapat melayani kapal-kapal ikan bertonase sampai 1.000 ton

Tidak hanya pengusaha penangkapan ikan yang diberi kemudahan dan fasilitas. Nelayan tradisional juga diberdayakan. Dalam ekspedisi Lintas Timur-Barat Kompas 2005 di Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Barat, kalangan nelayan mengeluhkan tentang hasil tangkapan mereka yang sedikit karena mereka tak punya alat tangkap yang memadai. Begitu pula modal mereka yang hanya pancing atau perahu tanpa mesin. (aik/yns)

Selasa, 13 Desember 2005

Potensi Ekonomi Kelautan

Tanggal : 13 Desember 2005
Sumber : http://sijorimandiri.net/jl/index.php?option=com_content&task=view&id=4056&Itemid=59
Oleh: Rokhmin Dahuri, Ketua Umum Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia

Selain beban utang dan penurunan daya saing ekonomi, masalah ekonomi paling krusial Indonesia adalah kemiskinan (60 juta jiwa) dan pengangguran (40 juta orang). Karena itu, setiap sektor pembangunan harus berkinerja maksimal dan bersinergi untuk mengatasinya.

Di era globalisasi yang bercirikan liberalisasi perdagangan dan persaingan antarbangsa yang makin sengit, segenap sektor ekonomi harus mampu menghasilkan barang dan jasa (goods and services) berdaya saing tinggi. Mengingat potensinya sangat besar, sementara permintaannya terus meningkat --seiring dengan bertambahnya penduduk dunia-- ekonomi kelautan diyakini dapat menjadi keunggulan kompetitif dan memecahkan persoalan bangsa.

Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pembangunan (ekonomi) kelautan yang besar dan beragam. Sedikitnya terdapat 10 sektor yang dapat dikembangkan untuk memajukan dan memakmurkan Indonesia, yaitu: (1) perikanan tangkap; (2) perikanan budidaya; (3) industri pengolahan hasil perikanan; (4) industri bioteknologi kelautan; (5) pertambangan dan energi; (6) pariwisata bahari; (7) transportasi laut; (8) industri dan jasa maritim; (9) pulau-pulau kecil; dan (10) sumberdaya non-konvensional.

Potensi lestari sumberdaya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton per tahun atau 7,5 persen dari total potensi lestari ikan laut dunia. Saat ini, tingkat pemanfaatannya baru 4,4 juta ton. Masih ada peluang mengembangkan usaha perikanan tangkap di daerah-daerah seperti pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT sampai ke ZEEI di Samudra Hindia; Teluk Tomini; Laut Sulawesi; Laut Banda; dan ZEEI di Samudra Pasifik. Potensi produksi SDI usaha perikanan budidaya jauh lebih besar ketimbang perikanan tangkap, sekitar 58 juta ton per tahun, dan baru diproduksi sebesar 1,6 juta ton (0,3 persen).


Urutan keenam

Saat ini Indonesia merupakan produsen ikan terbesar keenam di dunia dengan volume produksi enam juta ton (FAO, 2003). Bila Indonesia mampu meningkatkan produksi perikanannya, terutama yang berasal dari usaha perikanan budidaya, menjadi 50 juta ton per tahun (75 persen dari total potensi), maka Indonesia bakal menjadi produsen perikanan terbesar di dunia.

Hingga kini RRC merupakan produsen ikan nomor wahid dengan total produksi 41 juta ton per tahun. Padahal luas laut dan panjang garis pantainya hanya setengah dari yang kita miliki. Sekadar contoh, usaha budidaya tambak udang. Indonesia memiliki lahan potensial untuk tambak udang sekitar 1,2 juta hektare, dan baru diusahakan 350 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 0,6 ton per hektare per tahun.

Jika kita dapat mengembangkan usaha tambak udang seluas 500 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata dua ton per hektare per tahun, akan menghasilkan satu juta ton udang dan devisa 6 miliar dolar AS per tahun --setara dengan total devisa dari seluruh ekspor tekstil kita. Tenaga kerja yang terserap sekitar tiga juta orang.

Rumput laut dengan segenap produk hilirnya bahkan dapat menghasilkan devisa 8 miliar dolar AS per tahun. Lainnya adalah mutiara, kerapu, kakap, baronang, bandeng, nila, lobster, kepiting, rajungan, teripang, abalone, dan ikan hias. Lebih dari itu, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Karena itu, potensi ekonomi industri bioteknologi kelautan sangat besar berupa industri farmasi (seperti Omega-3, squalence, viagra, dan sun-chlorela); industri kosmetika; bioenergi; dan industri lainnya.

Secara potensial, nilai ekonomi total dari produk perikanan dan bioteknologi kelautan Indonesia diperkirakan sebesar 82 miliar dolar AS per tahun. Untuk pariwisata bahari, Negara Bagian Queensland, Australia, dengan panjang garis pantai 2.100 kilometer, mampu menghasilkan devisa 2 miliar dolar AS pada 2002. Maka sebenarnya potensi ekonomi pariwisata bahari Indonesia sangatlah besar. Hampir 70 persen produksi minyak dan gas bumi kita berasal dari kawasan pesisir dan laut. Potensi ekonomi perhubungan laut, juga diperkirakan sekitar 14 miliar dolar AS per tahun.

Di sektor jasa penyediaan tenaga kerja pelaut, potensinya pun luar biasa besarnya. Kebutuhan pelaut dunia pada 2000 sebanyak 1,32 juta orang dengan gaji mencapai 18 miliar dolar AS per tahun. Indonesia baru memasok 34 ribu orang (3 persen). Sedangkan Filipina 191 ribu pelaut (25 persen) dan RRC 104 ribu pelaut (10 persen). Belum lagi potensi ekonomi dari sektor industri dan jasa maritim.

Ekonomi kelautan makin strategis seiring pergesaran pusat kegiatan ekonomi dunia dari Poros Atlantik ke Poros Pasifik. Hampir 70 persen dari total perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik, dan 75 persen dari barang-barang yang diperdagangkannya ditransportasikan melalui laut Indonesia (Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan laut-laut lainnya). Seharusnya Indonesia mendapat keuntungan paling besar dari posisi kelautan global tersebut. ''Geographical position is the destiny for a nation-state'', begitu kata Captain AT Mahan of The US Navy.


Empat tujuan

Pembangunan kelautan hendaknya diarahkan untuk meraih empat tujuan secara seimbang, yakni: (1) pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan; (2) peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku usaha, khususnya para nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat kelautan lainnya yang berskala kecil; (3) terpeliharanya kelestarian lingkungan dan sumberdaya kelautan; dan (4) menjadikan laut sebagai pemersatu dan tegaknya kedaulatan bangsa.

Untuk merealisasikannya, perlu dilaksanakan empat agenda pembangunan kelautan secara terpadu, yaitu penegakkan kedaulatan di laut; menyusun dan mengimplementasikan tata ruang kelautan nasional guna menjamin kepastian dan efisiensi investasi di bidang kelautan, serta kelestarian ekosistem pesisir dan laut; peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha ekonomi kesepuluh sektor kelautan tersebut. Selanjutnya, sebagian hasil (economic rent)-nya digunakan membiayai agenda pertama dan kedua.

Dalam jangka pendek, sektor-sektor ekonomi kelautan yang layak (feasible) dan mampu memecahkan permasalahan ekonomi adalah perikanan budidaya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, industri pelayaran (perhubungan laut), industri maritim, dan pembangunan pulau-pulau kecil.

Pembangunan perikanan budidaya dan perikanan tangkap hendaknya dilaksanakan dengan menerapkan sistem bisnis perikanan secara terpadu yang mencakup aspek produksi, penanganan dan pengolahan, dan pemasaran hasil perikanan. Selain itu, prioritas pembangunan seyogianya fokus pada komoditas unggulan, yakni udang, kerapu, kakap, bandeng, nila, patin, kepiting, rumput laut, dan kerang mutiara untuk perikanan budidaya. Udang, tuna, cakalang, ikan demersal dan pelagis kecil yang bernilai ekonomis tinggi untuk perikanan tangkap.

Sehubungan dengan pasar produk hilir rumput laut yang sangat besar atau tak terbatas dengan harga ekspor tinggi (4-70 dolar AS per kg) dan Indonesia memiliki potensi produksi rumput laut terbesar di dunia (18 juta ton rumput laut kering per tahun), maka fokus industri bioteknologi kelautan seyogianya untuk menghasilkan produk semi-refined dan refined (produk akhir) rumput laut jenis karaginan, alginat, dan agarosa untuk industri farmasi, kosmetik, diary products, tekstil, cat, dan industri lainnya.

Untuk perhubungan laut, tinggal mengimplementasikan Inpres No 5/2005 secara serius dengan memberlakukan azas cabotage; meningkatkan produktivitas dan efisiensi pelayanan pelabuhan laut; mengembangkan Pelabuhan Sabang, Batam, Tanjung Priok, dan Bitung sebagai International Hub Port; penguatan dan pengembangan industri galangan kapal nasional (PT PAL, PT IKI, PT Koja Bahari, dan lain-lain); dan peningkatan produktivitas dan efisiensi manajemen pelayarannya itu sendiri.

Keempat agenda tersebut sesungguhnya sudah dilaksanakan oleh Dewan Maritim Indonesia (DMI), DKP, eserta departemen/instansi dan stakeholders terkait lainnya sejak awal 2000. Dan secara faktual, geliat pembangunan kelautan mulai menunjukkan hasilnya.

Dari perspektif geopolitik, hukum dan perundangan di bidang kelautan telah disusun dan disempurnakan. Seperti penyempurnaan UU No 9/1985 tentang Perikanan yang telah diundangkan sejak 6 Oktober 2004 menjadi UU No 31/2004 tentang Perikanan. Juga Inpres No 5/2005 tentang Pelayaran Nasional, RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir, RUU Kelautan, PP No 38/2002 tentang Garis Pangkal Indonesia, dan rencana Keppres tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar dan Wilayah Perbatasan.

Inventarisasi jumlah, penamaan, penyusunan basis data, dan pembangunan pulau-pulau kecil pun mulai digiatkan sejak awal tahun 2000. Berkat kerja sama sinergis antarinstansi terkait, utamanya DKP, Bakosurtanal, Dishidros TNI-AL, Depdagri, dan Deplu, kita pun telah berhasil mempublikasikan ''Peta NKRI'' sejak 2 Mei 2003.

Dari perspektif geoekonomi, pembangunan ekonomi kelautan di sektor perikanan, perhubungan laut, pariwisata bahari, pertambangan dan energi, dan industri maritim pun terus mengalami perbaikan. Namun demikian, perbaikan pembangunan ekonomi di berbagai sektor kelautan tersebut masih jauh dibanding potensinya.

Sekiranya kita mampu meningkatkan intensitas pembangunan ekonomi kelautan secara profesional, bidang kelautan tidak hanya mampu mengeluarkan kita dari persoalan kemiskinan dan pengangguran, tapi juga dapat menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, adil-makmur, dan bermartabat. Untuk mewujudkan ini, maka kebijakan politik-ekonomi (seperti fiskal-moneter, hukum, keamanan, otda, infrastruktur, dan ketenagakerjaan) harus kondusif bagi tumbuh-kembangnya ekonomi kelautan.


Sinergi revitalisasi

Dalam konteks inilah, seharusnya gerakan nasional Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yang kental dengan orientasi daratan disinergikan dengan revitalisasi pembangunan kelautan. Infratsructure Summit mestinya disinergikan dengan Agricultural Summit dan Maritime Summit, sehingga kita mampu mendayagunakan seluruh potensi SDA dan SDM. ***