Rabu, 11 Oktober 2006

Korvet Canggih, Kekuatan Laut Indonesia

Tanggal : 11 Oktober 2006
Sumber : http://gunaryadi.blogsome.com/2006/09/26/korvet-canggih-kekuatan-laut-indonesia-dan-geopolitik-regional/
Oleh Gunaryadi

Penulis sedikit merinding menyaksikan 2 dari 4 korvet SIGMA-class yang dipesan TNI-AL di dok-kering milik “Schelde Naval Shipbuildings” di Vlissingen. Betapa tidak, kapal yang dibangun di bawah koordinasi dan supervisi Satgas Yekda Korvet TNI-AL di Belanda tersebut, berdiri gagah dalam tahap “sentuhan-akhir” yang secara resmi diberi nama KRI Diponegoro (365) dan KRI Hasanuddin (366) oleh Menhan Juwono Sudarsono, 16 September 2006.

Kehadiran korvet ini membawa secercah harapan memperkuat armada TNI-AL. Meskipun sudah termasuk “too little, too late”, kehadiran 4 kapal patroli dengan daya-jelajah “green-water” serta daya-pukul memadai itu cukup menggembirakan.

Dengan panjang 90,71 meter dan lebar 13,02 meter, kapal yang didesain modern dan memiliki karakteristik “siluman” (stealth) itu mampu melaju dengan kecepatan maksimum 28 knot.

Untuk menghadapi ancaman permukaan, udara dan bawah-air, korvet tadi dilengkapi dengan alutsista standar di kelasnya. Diantaranya mencakup rudal permukaan-ke-udara Mistral, rudal anti-kapal Excocet MM40, meriam atomatis Melara kaliber 76 mm, senapan-mesin Vector12 kaliber 20 mm, torpedo 3A 244S Mode II/MU 90, decoy TERMA SKWS, serta berbagai instrumen pengindera-dini yang canggih, termasuk sebuah helipad di punggungnya.

Meskipun kapal ini memiliki kemampuan tempur, tetapi misi utamanya akan difokuskan untuk menjaga keutuhan wilayah, kekayaan maritim dan dasar laut, patroli perairan, menangkal penyelundupan, bajak laut, pencurian ikan, operasi penyelamatan, dan penegakan hukum di wilayah laut Indonesia.

Melihat dari dekat membuat kita yakin bahwa desain dan visi pembangunan kapal dengan harga-dasar sekitar €140 juta ini adalah untuk menjawab tantangan dan ancaman maritim hingga 25 tahun ke depan.

Memprihatinkan: Kekuatan Laut Kita
Kita tidak bisa membantah realita bahwa Indonesia adalah negara maritim yang terdiri dari hampir 20.000 pulau, 93.000 kilometer per segi laut-pedalaman, dan luas wilayah keseluruhannya menurut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) mencapai 7,9 juta kilometer per segi. Klaim luas terakhir ini tidak terlepas dari prinsip wilayah Indonesia yang mencakup “tanah dan air”, serta doktrin kesatuan politik dan keamanan nusantara (archipelagic).

Sebagai negara terbesar di ASEAN, bagaimana postur kekuatan alutsista TNI-AL kontemporer diukur dari kekuatan kapal? Saat ini TNI-AL memiliki kurang dari 200 kapal dari berbagai jenis. Padahal kebutuhan minimal kita adalah 300 kapal; kebutuhan normalnya 1.000 kapal; dan kebutuhan idealnya 2.000 untuk memantau dan mengawal seluruh titik wilayah laut Indonesia. Dengan kekuatan yang ada saat ini, kekuatan laut kita sangat memprihatinkan. Dengan selesainya korvet keempat 2009 nanti masih belum begitu signifikan menambah kapabilitas kuantitatif TNI-AL karena sudah banyak pula kapal berusia-lanjut yang perlu diganti.

Geopolitik Regional
Dengan penduduk lebih dari 200 juta, kondisi geografis Indonesia yang membujur di persilangan 2 samudera: Hindia dan Pasifik, serta kekayaan laut dan dasar laut melimpah, negara ini memiliki nilai yang sangat strategis. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa-jauh signifikansi geopolitis tadi didukung oleh postur kekuatan maritim kita.

Dibanding rasio wilayah laut yang harus dikawal, kekuatan laut Indonesia berada di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan ketinggalan jauh dari Australia. Secara teknologi, armada laut negara-negara tetangga tadi juga lebih maju dan mutakhir. Disamping itu, dari sisi anggaran pertahanan, magnitude kemampuan kita masih kecil.

Padahal potensi ancaman maritim sangat besar. Dari sisi pencurian ikan saja, sebelum 2004 Indonesia kehilangan sekitar Rp 36,5 trilyun per tahun. Dengan kebijakan yang lebih tegas, akhirnya kerugian negara berhasil ditekan menjadi sekitar Rp 18,2 trilyun per tahun.

Sedangkan menurut “International Maritime Bureau” (IMB), dari 445 serangan bajak-laut terhadap kapal komersial tahun 2003, 121 terjadi di wilayah laut Indonesia. Dalam perompakan yang paling sering terjadi di Selat Malaka itu, 20 pelaut terbunuh, 350 disandera, dan 70 hilang.

Belum lagi ancaman navigasi, pencurian benda arkeologi laut, penyelundupan kayu gelondongan, BBM dan manusia, penyebaran senjata pemusnah-massal, kerusakan lingkungan laut, serta sangketa pemilikan pulau dengan beberapa negara tentangga.

Mengingat posisi geopolitis, potensi ancaman, dan kekuatan laut Indonesia saat ini, seyogyanya peningkatan armada laut dan maritim kita hingga mencapai kapabilitas “green-water navy”, mendapat prioritas mendesak. Konsekuensinya adalah penambahan alokasi anggaran, peningkatan performa personil dan kerjasama dengan elemen hankam lainnya. Dalam konteks peningkatan kapabilitas maritim tadi, pembangunan korvet yang sedang berlangsung tersebut adalah kebijakan yang sangat tepat dan strategis. ***

Sabtu, 02 September 2006

Satu Tahun Revitalisasi Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Presiden SBY

Tanggal : 2 September 2006

Sumber : http://nasih.staff.ugm.ac.id/a/pert/20060902%20sat.htm

Oleh: Zuprizal


Lebih dari satu tahun setelah dicanangkanya program tentang Revitalisasi Pertanian, Kehutanan dan Kelautan (RPKK) oleh Presiden Republik Indonesia (SBY) (tepatnya pada tanggal 11 Juni 2005 tahun lalu), ternyata sampai saat ini belum terlihat hasilnya. Bahkan sebaliknya, apa yang dapat kita lihat saat ini tentang pertanian di negara kita tidak ada perbaikan yang mendasar, malahan persoalan-persoalan klasik yang setiap tahun selalu menghantui para petani semakin terlihat jelas. Persoalan tersebut, misalnya: harga pupuk yang melambung tinggi dan sulit didapat, harga gabah yang selalu rendah, bidang peternakan yang terpuruk (adanya wabah flu burung), ilegal loging (penjarahan hutan) tetap merajalela, pencurian ikan dan kekayaan laut lainnya belum teratasi. Seharusnya dengan dicanangkannya RPKK oleh Presiden SBY merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali mengangkat citra Bangsa Indonesia dalam bidang pertanian dan penyediaan pangan yang berkualitas bagi bangsa ini. Swasembada pangan yang pernah tercapai beberapa tahun yang lalu, sekarang menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar untuk diselesaikan. Harapan yang begitu besar yang kita gantungkan kepada pemerintahan SBY akan menjadi harapan yang kosong belaka. Karena implementasi kebijakan tentang RPKK Presiden SBY ini tidak jelas arahnya.


Bagi sebagian besar petani, mereka berpendapat siapapun yang menjadi Presiden di Republik ini, maka dapat dipastikan dalam lima tahun ke depan mereka pasti tetap dalam kondisi yang sama dengan sekarang ini, yaitu mereka akan tetap miskin. Bagi para petani tidak banyak perubahan yang dapat diharapkan dari rencana Presiden SBY dengan melaksanakan rencana RPKK yang telah dicanangkan tersebut, karena tidak ada program yang baru yang ditawarkan untuk benar-benar dapat mengubah nasib mereka sebagai petani miskin yang hidup di pedesaan. Dugaan ini sangat beralasan, mengapa demikian, marilah kita cermati apa-apa yang dapat memperkuat dugaan para petani tersebut, paling tidak ada tiga alasan yang dapat memperkuat dugaan tersebut. Pertama, walaupun Presiden SBY adalah Doktor dalam bidang Pertanian, tetapi Presiden SBY tidak memiliki visi dan misi yang jelas tentang sistem pengembangan pertanian yang ada ditanah air kita saat ini. Kedua, mereka berdua (Presiden dan Wakil Presiden) juga tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk mengangkat harkat dan martabat para petani miskin yang ada dipedesaan. Ketiga, Pemerintahan Presiden SBY tidak memiliki Menteri (Pembantu Presiden) yang kuat dan yang benar-benar mengerti tentang sistem dan organisasi pertanian yang ada di negara kita saat ini. Maka dari ketiga alasan tersebut sudah cukup bagi para petani untuk memreediksikan tentang nasib mereka dalam lima tahun ke depan akan tetap sama seperti halnya sekarang, yaitu menjadi petani yang tetap miskin. Pada tulisan ini akan dibahas usulan-usulan yang mungkin dapat dijadikan perhatian khusus bagi pemerintahan untuk mempunyai komitmen yang kuat untuk mengangkat harkat hidup para petani/peternak miskin dan pengusaha kecil di pedesaan, sehingga harapan mereka terhadap pemerintahan dapat menjadi kenyataan. Tulisan ini juga dibuat dalam rangka diadakannya Kongres ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) yang ke IX yang akan dilaksanakan di Yogyakarta dari tanggal 30 Agustus sampai dengan 1 September 2006. Dalam tulisan ini akan dibahas masalah-masalah pertanian secara luas dan usulan-usulan yang dimungkinkan dapat merealisasikan rencana Revitalisasi Pertanian, Kehutanan dan Kelautan (RPKK) yang dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia (SBY).


Adapun usulan-usulan tersebut adalah:

1). Mengubah citra padi sebagai tanaman politik. Padi merupakan komoditi politik yang sangat penting di Negara kita, seorang Menteri sangat takut dengan kekurangan stock padi/beras nasional ketimbang bagai mana memperhatikan nasib dari petani itu sendiri. Petani dipaksa memproduksi padi sebanyak-banyaknya, tetapi pemerintah tidak pernah memperhatikan nasib mereka. Coba kita perhatikan nasib para petani, apakan ada petani yang kaya?, bahkan untuk hidup kecukupan saja sudah sangat sulit. Pada saat panen raya, malahan harga gabah di pasaran jatuh, para petani yang merasakan akibatnya. Di lain pihak, pada saat tidak pada musim panen pemerintah import beras, harga beras murah dan harga gabah kembali jatuh, lagi-lagi petani yang dirugikan. Jadi kalau kita masih berpikir bahwa petani identik dengan padi, maka selamanya petani tetap miskin dan miskin. Pemerintah seharusnya sudah tidak lagi menjadikan padi sebagai tanaman politik. Padi harus menjadi tanaman opsional, biarkan petani yang memilih komoditi yang akan ditanam, dan pemerintah harus melindungi petani dan sekaligus konsumen bukan lagi hanya menjaga stabilitas harga gabah/beras yang murah, tetapi dengan mengorbankan kepentingan para petani.

2). Memperbaiki Sistem subsidi sarana produksi pertanian yang keliru. Sistem subsidi sarana produksi pertanian (pupuk dan obat-obatan) adalah kebijakan lain dari pemerintah yang selama ini yang dianggap salah. Petani tidak perlu disubsidi pupuk, karena dengan harga pupuk yang rendah malah menyebabkan pupuk tidak pernah sampai ketangan para petani. Pupuk dengan harga murah malah banyak disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk diselundupkan/diekspor secara ilegal ke luar negeri. Para petani tidak perlu disubsidi pupuk dan obat-obatan. Tetapi biarkan petani mendapatkan harga pupuk dan obat-obatan dengan harga yang wajar di pasaran. Harga pupuk dan obat-obatan akan bersaing secara sehat di pasaran, dan pada akhirnya para petani akan diuntungkan apabila harga gabah hasil panen mereka dihargai oleh pemerintah dengan harga yang wajar. Di lain pihak petani akan bergairah untuk memproduksi gabah sebanyak-banyaknya, dan juga penyalahgunaan subsidi sarana produksi pertanian (pupuk dan obat-obatan) dapat dihindari, sehingga kerugian pemerintah dapat dikurangi dan masyarakat luas terjamin kebutuhan hidup pokoknya. Sistem inilah yang saya sebut dengan sistem subsidi hasil produksi untuk kepentingan masyarakat luas baik para petani ataupun masyarakat konsumen pada umumnya.

3). Mengoptimalkan sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan (SPTB). Sistem pertanian yang juga kurang mendapat perhatian oleh pemerintah saat ini adalah sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan (SPTB). Sudah kita ketahui bersama bahwa pada saat-saat krisis ekonomi yang lalu, secara umum hanya sektor industri kecil yang dapat bertahan hidup. Sedangkan secara khusus disektor pertanian hanya sub sektor peternakan tradisional yang menyelamatkan kehidupan para petani miskin di pedesaan. Dari hasil statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2005 ada lebih kurang 40 juta penduduk Indonesia yang miskin. Kalau diasumsikan 60-70% nya tinggal di pedesaan sebagai petani maka ada 24 - 28 juta petani miskin yang hidup dipedesaan. Mereka pada umumnya petani dan buruh tani yang miskin, bahkan sebagian besar berpendapatan di bawah satu US dolar perhari. Sampai saat ini mereka masih dapat bertahan hidup karena adanya sistem pertanian yang terpadu. Sistem ini adalah dengan memadukan pertanian tanaman pangan dengan peternakan tradisional. Inti dari sistem SPTB adalah meningkatkan pendapatan para petani dari hasil samping mereka beternak. Dengan sentuhan teknologi tepat guna dan pendampingan serta kemudahan akses permodalan petani diberi kesempatan untuk mengembangkan peternakan tradisionalnya dalam batas-batas tertentu yang masih memungkinkan untuk di kembangkan.

4). Mendirikan Bank Kredit Pertanian (BKP). Kendala utama dalam Sistem Pertanian Terintegrasi yang Berkelanjutan (SPTB) ini adalah masalah permodalan. Tidak satupun sistem lembaga keuangan/perbankan yang ada saat ini yang memihak kepada para petani miskin dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di pedesaan. Di lain pihak, usaha pemerintah selama ini untuk pemerataan akses permodalan kepada para petani dan UKM adalah dengan memberikan kredit murah atau bersubsidi yang tidak mengikuti sistem yang ada pada lembaga-lembaga keuangan yang resmi. Sistem pemberian kredit murah atau bersubsidi kepada para petani dan UKM adalah langkah-langkah kebijakkan pemerintah yang selama ini dianggap tidak mendidik dan keliru. Seharusnya para petani dan UKM tidak harus mendapatkan kredit murah dan bersubsidi, tetapi para petani harus dididik untuk mendapatkan akses permodalan yang wajar dari lembaga keuangan yang resmi. Akses kemudahan untuk mendapatkan permodalan oleh para petani dan UKM pada BKP tidak menggunakan sistem agunan yang lazim digunakan pada lembaga-lembaga keuangan lainnya yang selama ini sangat menyulitkan bagi para petani dan UKM untuk mendapatkan kredit permodalan yang diharapkan. Dengan demikian para petani dan UKM pada akhirnya akan mampu bersaing secara sehat dalam mengakses permodalan dari lembaga-lembaga keuangan lainnya.

5). Membentuk Menko Agrohanpan. Selain sistem teknis pertanian yang telah dibahas di atas, maka pemerintahan yang juga harus memperhatikan/memperbaiki sistem organisasi departemen yang menyangkut sistem pertanian yang luas (agrokompleks) dan ketahanan pangan yang ada saat ini. Ada lebih dari 220 juta rakyat Indonesia yang akan tergantung dari sistem ini. Apabila sistem agrokompleks dan ketahanan pangan ini tidak mendapat prioritas untuk dibenahi oleh pemerintah yang akan datang, maka besar kemungkinannya akan menyebabkan gangguan perekonomian negara secara menyeluruh. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk efisiensi dari masing masing Departemen yang terkait, maka perlu dipertimbangkan untuk membentuk satu Menko lagi, selain Menko Polkam, Menko Kesra dan Menko Perekonomian, yaitu Menko Agro dan Ketahanan Pangan (Menko Agrohanpan). Menko ini akan mengkoordinasi Departemen-departemen yang terkait seperti halnya Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Departemen lainya yang berhubungan dengan ketahanan pangan. Dengan adanya satu koordinasi yang baik di tingkat pusat akan juga dapat menyelaraskan dinas-dinas yang terkait yang ada didaerah yang saat ini ada kekacauan dengan berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah.


Tulisan ini hanya sebagian kecil permasalahan yang ada di dunia pertanian kita saat ini, perlu komitmen yang kuat terutama bagi pemerintahan untuk benar-benar berkeinginan mengangkat harkat dan martabat para petani di Tanah Air yang kita cintai ini, dengan membuat program-program yang terencana untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Kalau hal ini tidak dijadikan prioritas utama bagi program pemerintah, maka dicanangkannya program tentang Revitalisasi Pertanian, Kehutanan dan Kelautan (RPKK) oleh Presiden Republik Indonesia (SBY) pada tanggal 11 Juni 2005 tahun lalu, hanyalah merupakan slogan kosong belaka. q - c.

Sabtu, 05 Agustus 2006

Perikanan Sumbar sulit penuhi permintaan pasar

Tanggal : 5 Agustus 2006
Sumber : http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=268&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&p_ared_id=460541&p_ared_atop_id=O03
Oleh :Tularji

Letak Provinsi Sumbar di pantai barat pulau Sumatra sangat menguntungkan karena potensi kelautan dan perikanannya sangat besar. Sayangnya, pemberdayaan sektor perikanan tidak optimal, sehingga belum menghasilkan produktivitas yang signifikan terhadap perekonomian daerah ini.

Potensi kelautan dan perikanan di Provinsi Sumbar tersebar di tujuh daerah kabupaten dan kota a.l. Kota Padang, Pariaman, Kab. Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, dan Padang Pariaman.

Potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar tersebut sampai saat ini belum dioptimalkan oleh pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten dan kota yang memiliki kawasan laut tersebut.

Banyak pendapat mengatakan kalau di Selat Melaka sudah over fishing, sebaliknya perikanan di laut Sumbar tidak tersentuh atau justru menjadi incaran nelayan asing yang memiliki teknologi tangkap modern.

Parahnya lagi, nelayan di daerah ini belum bergerak kepada upaya optimalisasi potensi perikanan dan kelautan karena terbatasnya modal, teknologi yang sudah ketinggalan dan kualitas sumber daya manusia yang rendah.

Karena itu, potensi perikanan Sumbar yang diperkirakan mencapai 996.439 ton per tahun atau sekitar 20% dari potensi perikanan nasional baru tergarap 30% dan itu pun sebagian besar digarap nelayan luar, seperti Sumatra Utara dan nelayan asing.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Sumbar beberapa waktu lalu merilis potensi perikanan laut Sumbar menjadi incaran nelayan asing karena potensinya masih besar. Sementara daya tangkap nelayan lokal rendah.

Parahnya lagi, menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPD HNSI) Sumbar Mirwan Pulungan, eksploitasi potensi perikanan laut tidak optimal. Ini disebabkan nelayan yang benar-benar berprofesi sebagai nelayan sangat minim.

Produksi Perikanan Laut Sumbar (dalam ton)
NoKabupaten/Kota 20042005
1. Padang 19.160 20.405
2. Pariaman 6.332 6.722
3. Kepulauan Mentawai 10.597 11.286
4. Pasaman Barat 22.573 24.041
5. Agam 3.123 3.326
6. Padang Pariaman 16.470 17.541
7. Pesisir Selatan 24.110 25.591

Jumlah102.365108.912
Sumber: Pemprov Sumbar

Jumlah perahu nelayan 2005
Kabupaten/ kota Tanpa motorMotor tempelKapal motor
Padang 486 431 349
Pariaman 56 66 56
Kepulauan Mentawai 642 201 36
Pasaman Barat 1.143 43 263
Agam 565 76 66
Padang Pariaman 591 346 74
Pesisir Selatan 599 421 560
Jumlah 4.082 1.582 1.404
Sumber: Pemprov Sumbar

Pasalnya, selain menangkap ikan, banyak nelayan yang berprofesi sebagai petani, buruh, berkebun, pedagang dan sebagainya, sedangkan yang benar-benar berprofesi sebagai nelayan hanya 15%.

Permintaan tinggi

Gubernur Sumatra Barat Gamawan Fauzi mengatakan pasar produk perikanan laut Sumbar sangat menjanjikan karena kualitasnya cukup bagus. "Berapapun besarnya yang akan diekspor, negara-negara tujuan ekspor siap menampung," katanya kepada Bisnis pekan ini.

Menyinggung sulitnya memenuhi permintaan pasar luar negeri, dia mengatakan penyebab utamanya adalah kemampuan nelayan dalam meningkatkan volume tangkapan masih rendah karena alat tangkap yang digunakan terbatas.

Menurut dia, jenis alat yang digunakan nelayan selama ini memang bervariasi seperti tonda, pancing tonda (kail dengan banyak mata pancing yang ditarik dengan kapal), pancing biasa dan jaring kecil.

Sedangkan kurangnya modal, minimnya penguasaan teknologi menyebabkan hasil tangkapan nelayan tidak memuaskan, bahkan sebagian nelayan di daerah itu justru malas melaut.

Apa yang dikatakan Gubernur memang benar. Ketika Bisnis menelusuri pada salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Sumbar yakni Kepulauan Mentawai, terungkap pasar perikanan dari Sumbar menjanjikan, tapi permintaan tersebut sulit dipenuhi.

Seperti diungkapkan Salius, 41, seorang pedagang pengumpul besar yang memiliki empat kapal penangkap ikan berbasis di Tua Pejat, Ibu Kota kabupaten Kepulauan Mentawai, mengatakan pasar ekspor produk perikanan dari Perairan Sumbar menjanjikan.

Buktinya, kata dia, ratusan nelayan daerah itu yang beroperasi dengan menggunakan kapal berkapasitas 10 GT-15 GT tidak mampu memenuhi tingginya permintaan pasar terutama pasar ekspor.

Sebagai gambaran, tambahnya, mulai Mei lalu, importir asal Hong Kong siap menampung dan membeli ikan kerapu hidup dengan harga yang cukup tinggi yakni Rp80.000 per kg di tingkat nelayan.

Menariknya lagi, nelayan tidak perlu bersusah payak mengekspor ikan kerapu hidup tersebut ke negara tujuan, tapi cukup mengumpulkan kerapu hidup tersebut sebab importir Hong Kong telah menyiapkan kapal untuk menjemputnya.

"Sayang, seluruh pedagang pengumpul di daerah ini rata-rata hanya mampu menyediakan 50 kg -150 kg per bulan sehingga permintaan importir Hong Kong yang mencapai ratusan ton tersebut tidak bisa dipenuhi," kata Salius.

Demikian juga dengan pasar tuna. Meskipun saat ini pemprov sedang mengoptimalkan daya tangkap ikan tuna karena pasarnya sangat menjanjikan, tapi belum mampu memenuhi tingginya permintaan.

Kendala ekspor tuna juga terletak pada alat kargo yang terbatas karena saat ini ekspor ikan tuna tidak didukung oleh fasilitas pesawat kargo khusus, tapi melalui pesawat regular dengan kemampuan angkut yang terbatas.

Sebagai gambaran, sampai posisi Mei tahun ini, nilai ekspor tuna mencapai Rp34 miliar dengan volume 500 ton. Sementara pasar ekspor terutama Jepang, siap menampung berapapun banyaknya ikan tuna yang akan diekspor dari provinsi ini.

Untuk mengoptimalkan eksploitasi ikan tuna, pemprov menyiapkan delapan unit kapal khusus tangkap ikan tuna berkapasitas 15 GT.

Investor melirik

Pemprov Sumbar tahun ini terus mendorong investasi pada sektor kelautan dan perikanan serta mengoptimalkan potensi perikanan untuk menggerakkan perekonomian daerah ini dengan meluncurkan program revitalisasi perikanan.

Dalam program revitalisasi ini, pemprov menargetkan dapat memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan secara profesional untuk mendukung masyarakat Sumbar sejahtera pada 2010 mendatang.

Program revitalisasi diluncurkan dengan sasaran mendasarnya a.l. meningkatkan pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan sebesar Rp1 juta per orang per bulan, kemudian mengentaskan kemiskinan nelayan sebanyak 3.100 kepala keluarga dan meningkatkan konsumsi ikan antara 26 kg-30 kg per kapita.

Hasilnya mulai kelihatan dan investor asing mulai melirik potensi kelautan dan perikanan provinsi ini, meskipun belum ada realisasinya. Menurut catatan Bisnis, sampai semester I/2006, sudah sembilan investor asing yang berminat berinvestasi pada sektor kelautan dan perikanan di provinsi ini.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar, Fachri Syam mengatakan ada lima investor dari Singapura yang akan berinvestasi di daerah ini. Mereka membutuhkan pasokan ikan segar sebesar 10 ton per hari.

Selain itu, ada dua investor asal Korsel yang akan berinvestasi sekitar Rp300 miliar masing-masing Rp200 miliar untuk membangun perusahaan tambak udang di Kabupaten Pesisir Selatan pada areal seluas 400 ha. Sedangkan, Rp100 miliar yang merupakan investasi perusahaan konsorsium Sigma Group of Companies, untuk membangun kota ikan (fish town).

Satu investor asal Malaysia akan berinvestasi sebesar Rp200 miliar untuk proyek pengadaan kapal tangkap ikan tuna berkapasitas 60 GT -100 GT dan pendirian pabrik pengalengan ikan.

Sayangnya investor asing tersebut belum merealisasikan rencananya. Mereka membutuhkan waktu untuk benar-benar yakin berinvestasi di daerah ini sangat menguntungkan. Bisa jadi investor asing masih membutuhkan kepastian hukum dan jaminan keamanan.

Jumat, 04 Agustus 2006

Hutan Bakau Pesisir Sulsel Perlu Direhabilitasi

Tanggal : 4 Agustus 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0608/04/daerah/2854082.htm
Oleh
Reny Sri Ayu Taslim


Bencana tsunami di Aceh akhir 2004 tiba-tiba saja membuka mata banyak orang untuk melihat lagi kondisi pesisir masing-masing.

Mangrove atau bakau dan apa pun jenis tanaman air asin lainnya menjadi pembicaraan penting. Demikian pula Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang tergugah untuk merehabilitasi hutan bakaunya yang sudah kritis dan parah kondisinya.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Sulsel Tan Malaka Guntur memaparkan, selama kira-kira 20 tahun terakhir, hutan bakau di sepanjang pesisir Sulsel berkurang hingga 90 persen. Sebagai gambaran, kalau 20 tahun lalu daerah ini masih memiliki 214.000 hektar (ha) hutan bakau, saat ini yang tersisa tinggal 26.000 ha. Areal sisa ini pun menunjukkan kecenderungan kian menyusut.

Menurut Tan Malaka, berkurangnya hutan mangrove terjadi di hampir seluruh pesisir Sulsel yang membentang di garis pantai sepanjang 1.973 kilometer (km). Akibatnya, nyaris di sepanjang pesisir Sulsel terjadi abrasi cukup parah.

"Abrasi ini bukan hanya menggerus jalan, tapi juga lahan pertanian, perkebunan, dan perkampungan penduduk. Sebagai contoh, abrasi di Kabupaten Pinrang dan Mangara Bombang di Kabupaten Takalar dan hampir di semua kabupaten," kata Tan Malaka.

Tidak adanya bakau, di beberapa desa di pesisir di Kabupaten Pangkep, terutama di wilayah yang berbatasan dengan laut lepas, membuat warga menderita bila air pasang.

"Kalau air pasang, terutama antara bulan November hingga Februari atau Maret, air masuk ke perkampungan dan rumah- rumah bisa terendam hingga sebatas betis atau paha orang dewasa. Makanya sekarang dibuat jalan-jalan desa yang posisinya cukup tinggi yang sekaligus bisa jadi semacam tanggul," ujar Abdul Djabar, Ketua Rukun Kampung Lamasik, Desa Boddie, Kecamatan Mandalle, Pangkep.

Hilangnya hutan bakau ini secara umum bukan hanya menyebabkan banyak orang terpaksa kehilangan rumah, sawah, dan kebun, tapi sekaligus menghilangkan mata pencarian. Kepiting dan beberapa jenis ikan dan udang yang berkembang biak di bawah akar-akar bakau, di sejumlah tempat di Sulsel, kini sudah punah.

Di Kecamatan Galesong Selatan di Kabupaten Takalar, misalnya, hilangnya hutan bakau dan penangkapan yang berlebihan membuat populasi kepiting rajungan mulai punah. Bahkan, sejumlah usaha rumahan yang bekerja sama dengan perusahaan pengekspor rajungan sudah berhenti berproduksi.

Di Desa Buku, Polman, hutan bakau juga menyebabkan kepiting yang pernah menjadi mata pencarian penduduk kini tinggal kenangan. Hal yang sama terjadi di Kecamatan Mandalle, Segeri, dan beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Pangkep. "Dulu banyak kepiting yang hidup di sini, tetapi sekarang sudah hampir tidak ada lagi. Kalaupun ada kepiting, jumlahnya sedikit dan ukurannya kecil-kecil," kata Abdul Jabar.

Di desa tersebut abrasi telah menggerus perkampungan dan tambak sehingga sebagian warga memilih merantau ke daerah lain hingga Malaysia. "Di sini rumah dan terutama mata pencarian mereka sudah hilang. Dulu di Pantai Buku banyak sekali kepiting dan banyak yang menjadikannya mata pencarian. Tetapi, sejak hutan bakau habis, kepiting tidak ada lagi," ungkap Ibrahim, Kepala Badan Perwakilan Desa Buku.


Rehabilitasi kawasan pesisir

Sebenarnya, ada hal yang lebih penting dari sekadar kehilangan permukiman, lahan pertanian, perkebunan, penghasilan, dan lainnya, yakni ancaman akan kehilangan segala-galanya bila terjadi bencana tsunami. Tanpa bakau, tsunami akan leluasa memorakporandakan kawasan pesisir. Di Sulsel, dari 23 kabupaten/kota, hanya empat kabupaten yang tidak berbatasan dengan laut.

Peneliti yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Niarti Ningsih mengingatkan pemerintah akan bahaya pesisir tanpa bakau.

"Berkaca pada bencana tsunami di Aceh, Pangandaran, dan banjir bandang di Kabupaten Sinjai, penanaman kembali bakau harus lebih digiatkan. Di Sinjai, misalnya, kerusakan yang terjadi di Tongke-Tongke dan sekitarnya yang dipenuhi bakau masih lebih ringan ketimbang daerah lain," paparnya.

Karena berbagai alasan inilah Pemprov Sulsel bekerja sama dengan pemerintah kota/kabupaten dan masyarakat pesisir untuk merehabilitasi kawasan pesisir dengan menggalakkan kembali penanaman bakau.

Penanaman kembali bakau, kata Tan Malaka, tidak dilakukan sekaligus, tapi bertahap dan simultan di berbagai daerah. Misalnya, pemprov menanam 10 ha-20 ha di tiap kabupaten dan pemerintah kabupaten/kota juga menanam sejumlah itu.

"Modelnya semacam demplot. Agar masyarakat mau terlibat secara langsung dan intensif, kami memberikan insentif. Selain diberi bibit dan diajari cara menanam, mereka juga diberi modal sebagai tambahan penghasilan. Misalnya kami beri bibit rumput laut, alat menangkap ikan, dan lainnya. Jadi mereka punya motivasi untuk menanam dan menjaga bakau," ungkapnya.

Diharapkan, jika setiap tahun 20 kabupaten masing-masing menanam sedikitnya 20 ha bakau, maka setidaknya setiap tahun target perluasan hutan bakau 300 ha-500 ha bisa tercapai.

Sayangnya, rencana itu tidak mudah diwujudkan di lapangan. Faktanya, penanaman kembali bakau dan sejenisnya sungguh tidak mudah dilakukan. Sepanjang dua tahun penggalakan kembali penanaman bakau, tingkat keberhasilan di setiap tempat hampir sama, yakni hanya sekitar 20-30 persen.

"Kalau menanam pada musim kemarau tanamannya mati. Tetapi, kalau menanam pada saat air pasang dan ombak besar, baru ditanam sudah rusak dibawa ombak. Sekalipun sudah diberi patok penahan ombak, tapi kalau ombaknya besar, patoknya pun terbawa ombak," tutur M Gading, Ketua Kelompok Tani Makmur, Desa Boddie, Kecamatan Mandalle.

Seluruh kelompok tani di desa-desa di seluruh kabupaten di pesisir memang dilibatkan langsung dalam kegiatan ini.

Abdul Madjid dari kelompok tani di Kecamatan Segeri mengakui, "Selama dua tahun saya menanam bakau, bisa dibilang tingkat keberhasilannya hanya sekitar 20-30 persen."

Sebenarnya, selain bakau, di sejumlah pesisir, tanaman lokal yang oleh masyarakat sekitar disebut pohon api-api tumbuh subur. Fungsinya hampir seperti bakau karena juga tumbuh di air asin dengan tanah berpasir. Akarnya pun dinilai cukup kuat untuk menahan gerusan ombak di tanah. Bahkan, tanaman ini jauh lebih mudah tumbuh.

"Sejak dulu kebanyakan memang pohon api-api yang tumbuh. Pohon api-api ini biasanya tumbuh sendiri. Kalau buahnya sudah jatuh, biasanya tumbuh sendiri tanpa perlu dipelihara. Akarnya juga cukup kuat menahan ombak yang menggerus tanah. Bahkan, kalau ombak datang membawa tanah dan lumpur akan membuat tanah di bawah pohon bertambah tinggi karena tertahan di akar pohon," papar Abdul Jabar, warga Desa Boddie, Pangkep.

Menurut Niarti Ningsih yang meneliti bakau sejak tahun 1990-an, menanam bakau memang tidak bisa dilakukan asal-asalan karena perlu perlakuan khusus. Pada tanah berpasir, yang paling tepat ditanam adalah risophora. Sedangkan di lahan berlumpur dan berair, cocok untuk bakau dengan beberapa jenisnya. Untuk pesisir di laut lepas sebaiknya tanaman diberi pemecah ombak atau patok-patok yang cukup kuat menahan ombak.

Senin, 01 Mei 2006

SD Kawasan Pesisir Kekurangan Guru

Tanggal : 1 Mei 2006
Sumber : http://www.indomedia.com/BPost/052006/1/kalsel/lbm5.htm

Pelaihari, BPost
Sebagian besar sekolah, terutama jenjang sekolah dasar (SD), di kawasan pesisir Kabupaten Tanah Laut (Tala) hingga kini masih kekurangan guru.

Sejumlah SD di pesisir Kecamatan Jorong dan Kintap, antara lain, yang sampai saat ini dihadapkan pada terbatasnya tenaga pengajar. Sumber BPost melaporkan beberapa SD hanya ditangani oleh dua orang guru.

Akibatnya, proses belajar-mengajar di sejumlah SD pesisir berjalan apa adanya, jauh dari standar. Ini disebabkan guru yang ada harus mengajar hingga tiga kelas sekaligus sehingga materi pelajaran tidak tersampaikan secara maksimal.

Dikonfirmasi, Jumat (28/4), Kadis Pendidikan Tala Drs H Noor Ifansyah mengakui kurangnya tenaga guru di beberapa SD. "Ini memang menjadi salah satu permasalahan serius. Kami terus berupaya untuk mengatasinya."

Diakuinya pula bahwa Tala tergolong sebagai salah satu daerah di Kalsel yang masih mengalami kekurangan guru dalam jumlah cukup besar, ribuan orang. Terutama pada SD di wilayah pesisir.

"Tidak bisa dipungkiri memang hingga sekarang masih ada beberapa SD yang hanya memiliki 2-3 guru. Tapi, proses belajar mengajar tetap berjalan dan tetap diupayakan secara maksimal," tandas Ifansyah.

Berbagai cara terus dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Diantaranya melalui rekrutmen guru bantu yang berasal dari daerah setempat.

Tahun 2003 lalu rekrutmen guru bantu sebanyak 225 orang dan 245 pada tahun 2004. "Mereka kami sebar ke SD di kawasan pesisir yang sangat kekurangan guru. Contohnya, ke SDN di Desa Sabuhur dan Trans 200," sebut Ifansyah.

Namun diakuinya rekrutmen guru bantu tersebut belum mampu mencukupi kekurangan guru. Apalagi, sebagian diantara mereka terserap menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Tenaga guru hasil rekrutmen CPNS awal tahun 2006 lalu, misalnya, sebanyak 111 orang. Sebagian besar adalah berasal dari guru bantu, hanya 89 orang yang berasal dari umum.

Karena itu, sebut Ifansyah, pengadaan guru bantu diupayakan akan terus dilanjutkan. Ini karena keberadaan mereka cukup membantu mengatasi keterbatasan tenaga pengajar di sejumlah SD.

Strategi lain yang dilakukan, lanjut Ifansyah, yakni memperketat mutasi. Pihaknya tidak akan mengabulkan permohonan pindah tugas--terutama dari desa ke kota--jika tidak ada alasan yang sangat kuat. Kecuali, bagi mereka yang melanjutkan pendidikan (sarjana).

Saat ini ada sekira 20-an guru yang melanjutkan pendidikan sarjana di Banjarmasin dan Banjarbaru. Sebagian dari mereka sebelumnya meminta pindah tugas ke wilayah Kecamatan Bati-Bati dengan tujuan agar lebih dekat dengan tempat mereka kuliah.

"Yang seperti ini, saya maklumi, karena niat mereka meningkatkan kualitas diri adalah hal yang sangat positif. Tapi, setelah mereka merampungkan kuliahnya, tentu kebijakan saya akan lain lagi. Mereka kemungkinan akan disebar ke daerah pesisir lagi," kata Ifansyah. roy

Senin, 27 Maret 2006

Dibutuhkan Reorientasi Kelautan Nasional

Tanggal : 27 Maret 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0603/27/humaniora/2541652.htm

Jakarta, kompas - Pembangunan Indonesia saat ini masih berorientasi pada daratan dan belum memandang laut sebagai komponen wilayah yang utama. Dampaknya, perlindungan terhadap kedaulatan matra laut Indonesia masih sangat minim sehingga banyak kekayaan alam yang dicuri begitu saja.

"Kenyataan bangsa ini belum memandang laut sebagai yang utama mengakibatkan kita sulit memanfaatkan potensinya seoptimal mungkin," kata Prof Dr Susanto Zuhdi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) di Jakarta, Sabtu (25/3). Upacara yang dipimpin Rektor UI Prof Dr Usman Chatib Warsa itu juga mengukuhkan Meutia Farida Hatta-Swasono sebagai guru besar tetap FISIP UI.

Pembangunan yang terlalu berorientasi pada daratan menyebabkan pengawasan kelautan terus tertinggal. Padahal, laut memiliki peranan yang penting yang menyatukan pulau-pulau yang terpisah di Indonesia.

Memang, kata Susanto, semua pihak menyadari upaya penyatuan pulau-pulau itu masih memiliki hambatan. Di antaranya letak pulau-pulau yang berada jauh dari daratan besar atau sudah mendekati batas perairan internasional.

Lebih lanjut Susanto mengajak semua pihak untuk meningkatkan pemahaman terhadap Tanah Air dengan mempelajari sejarah. Para peserta didik harus mendapat pengetahuan sejarah nasional yang memadai sehingga mereka semakin mencintai Tanah Airnya.

"Merangkai Tanah Air dapat dengan lawatan sejarah, baik melalui bacaan dan film maupun dengan berkunjung ke situs sejarah. Cara ini bisa dilakukan untuk merajut simpul-simpul perekat bangsa," ujarnya.

Selasa, 14 Februari 2006

Kawasan Pesisir Sulit Dikembangkan

Tanggal : 14 Februari 2006
Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0602/14/daerah/2438739.htm

Banda Aceh, Kompas - Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, pengembangan kawasan pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam masih sulit dilakukan meskipun kawasan pesisir merupakan wilayah paling parah terkena dampak tsunami. Wilayah pesisir memiliki keunikan tersendiri karena sangat dinamis dan terdapat banyak keterikatan ekologis. Pengelolaan kawasan pesisir terpadu bisa mendatangkan banyak manfaat, ujar Freddy pada pencanangan pembangunan pesisir terpadu di Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Senin (13/2).

Namun, diakui Freddy, pembangunan kawasan yang terkena dampak tsunami di Aceh masih belum banyak memerhatikan wilayah pesisir. Yang dibutuhkan di Aceh sekarang adalah coastal management area yang baik dan memerhatikan keberlanjutan sumber daya pesisir, ujarnya.

Tiga desa yang dicanangkan sebagai desa terpadu untuk pengembangan kawasan pesisir adalah Desa Meunasah Keude, Meunasah Kulam, dan Meunasah Mon di Kemukiman Kreung Raya, Aceh Besar. Pengembangan desa terpadu di kawasan pesisir ini merupakan proyek konsorsium Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB) dengan Lembaga Riset dan Informasi Pengembangan Masyarakat (Leima).

Menurut Ketua Konsorsium Prof Dr Tridoyo Kusumastanto, pengembangan tiga desa di kawasan pesisir ini memadukan sektor perikanan, pertanian, dan industri. Kami ingin proses pengembangan kawasan pesisir ini tidak terkotak-kotak karena di sana ada yang hidup dari sektor perikanan, pertanian, dan industri, ujarnya.

Pengembangan kawasan pesisir di tiga desa ini juga berbasis pada keinginan masyarakat setempat. Sebelum dilakukan pembangunan fisik, menurut Tridoyo, lebih dulu dilakukan penguatan pranata sosial masyarakat.

Masyarakat terlibat langsung lewat Komite Pembangunan Desa. Untuk menggerakkan sektor ekonomi, dibentuk koperasi syariah, pranata masyarakat juga dipulihkan, ujar Tridoyo.